06/06/17

KISAH INSPIRATIF: Melihat Rumah Produksi Tas Kulit Sapi Ini, Maka Anda Tak Lagi Meremehkan Harganya

Pemilik usaha kerajinan tas kulit Vanilla Leather, Stevanny Candra, menunjukkan salah satu produk tas kulit di rumah produksinya, Jumat (9/12/2016). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja)

Tas berbahan dasar kulit masih mudah dijumpai. Di Jogja sendiri, salah satu perajin tas kulit bisa ditemukan di belakang Terminal Giwangan, tepatnya di Dusun Giwangan-Mrican, Umbulharjo, Jogja.

Tas dengan brand Vanilla Leather tersebut merupakan hasil olah karya seorang perempuan asal Pangkal Pinang, Stevanny Candra yang kini sudah menjadi penduduk Jogja.
Ia bersama 10 karyawannya aktif memproduksi tas kulit setiap hari. Kulit yang digunakan adalah kulit sapi kualitas unggulan.

“Kulitnya sudah disamak dan saya ambil dari rekanan yang memang saya sudah tahu kualitasnya,”
kata Vanny saat ditemui di rumah produksinya, Jumat (9/12/2016).
 
Lembaran kulit tersebut kemudian dipola, dipotong, dan dijahit sesuai model yang diinginkan. Kualitas material serta kualitas jahitan memang membuat harga yang ditawarkan terbilang tinggi dibandingkan kompetitor.
Produk tas ia jual mulai Rp900.000 dan dompet mulai Rp500.000. Vanny mengklaim, harga yang ditawarkan itu merupakan harga realistis yang telah memperhitungkan kualitas material dan gaji karyawan.

Membuat kerajinan dari kulit memang membutuhkan tenaga dan waktu yang ekstra, terlebih sebagian kecil prosesnya ada yang dikerjakan secara manual menggunakan tangan. Namun usaha tersebut sepertinya tidak dapat dipahami oleh semua orang.

Vanny bahkan kerap menemui konsumen yang menyamakan produknya dengan tas sintetis yang dijual di pasar tradisional. “Saya tidak hanya menjual tapi juga sekaligus mengedukasi bahwa membuat tas kulit itu tidak mudah,” katanya.

Bagi sebagian orang yang memahami proses pembuatan tas kulit, mereka menaruh penghargaan pada perajin. Sebaliknya, mereka yang tidak mengenal kulit dan hanya membandingkan tas kulit dengan bahan sintetis atau semikulit,  mereka hanya akan meremehkan.

Dalam sebulan, ia bisa memproduksi 50 tas dan mampu meraup omzet Rp35 juta. Pemasaran dilakukan secara online dan offline. Untuk pemasaran online, ia memanfaatkan media sosial seperti facebook dan instagram, sementara untuk pemasaran offline, ia menjual di gerainya di Lippo Plaza lantai 1.

Produk tas Vanilla Leather banyak terjual di luar Jogja, seperti Jakarta, Balikpapan, Papua, dan Semarang. “Kalau ekspor belum [dilakukan] tetapi ada satu orang yang berencana ngebranding dan dijual di luar negeri. Sekarang lagi tahap perbincangan, dia juga sudah sempat ke sini,” katanya.
Ia juga menerapkan sistem diskon 15% untuk member dengan tujuan meningkatkan loyalitas konsumen pada produk-produk Vanilla Leather. Ia juga terus memperbarui model tas dengan meluncurkan model baru setiap dua bulan sekali.

Atas ketekunannya menjalani bisnisnya itu, ia berhasil masuk nominasi dalam Dekranasda Kota Yogyakarta (Dekoya) Award. Belum lama ini ia juga meraih penghargaan dalam ajang UKM WOW Kementerian Koperasi dan UMKM atas prestasinya membangun kewirausahaan lokal.



sumber http://www.solopos.com/2016/12/11/kisah-inspiratif-melihat-rumah-produksi-tas-kulit-sapi-ini-maka-anda-tak-lagi-meremehkan-harganya-775771
Dari berbagai macam produk kerajinan kulit yang sering kita lihat, boleh di bilang kebanyakan di antaranya adalah terbuat dari kulit sapi. Mengapa kerajinan menggunakan bahan dari kulit sapi? Antara lain adalah dikarenakan kulit sapi memiliki tekstur yang lebih khas, tahan lama sehingga kulit sapi banyak digunakan dalam proses produksi tas kulit, dompet kulit maupun sandal kulit. Berikut akan kita jabarkan beberapa jenis bahan kulit sapi yang biasa digunakan untuk membuat tas kulit, dompet kulit, atau sandal kulit:

1. Kulit Sapi Nabati:
  • sifat kulit: tebal/kaku
  • Jenis kulit ini lebih banyak digunakan, karena selain kualitasnya cukup baik, harganya tidak terlalu mahal dibandingkan dengan jenis kulit sapi lainnya. Sehingga anda dapat tetap memiliki tas kulit, dompet kulit, atau sandal kulit dari kulit sapi yang tetap terjaga keaslian kulitnya.
2. Kulit Sapi Krom:
  • sifat kulit: tebal/lembut
  • Jenis kulit ini tergolong memiliki permukaan agak halus, sehingga dari sisi harga lebih mahal dari jenis kulit sapi nabati. Jenis kulit sapi jenis ini biasa digunakan untuk membuat tas kulit, dompet kulit, atau sandal kulit berlabel limited edition atau branded.
3. Kulit Sapi Pullup:
  • sifat kulit: tebal/lembut/lentur
  • Harga untuk jenis kulit ini lebih mahal 2 hingga 3 kali dari jenis kulit nabati dan krom. Jenis kulit ini cocok jika digunakan untuk membuat kerajinan tas dan dompet kulit dengan kualitas super. Peminat untuk jenis kulit ini tergolong dari kelas menengah keatas dengan harga rata-rata produk diatas Rp. 800.000, tergantung dari model dan ukuran produk.
4. Kulit Sapi Suede:
  • sifat kulit: tipis/lembut
  • ini merupakan yang termahal dibandingkan dengan jenis kulit nabati dan krom, memiliki tekstur yang hampir berbulu serta lembut. Jenis kulit sapi suede ini biasa digunakan untuk membuat kerajinan tas kulit, dompet kulit, atau sandal kulit yang berbranded dengan koleksi produk yang mewah.
Dari informasi yang tim kerajinan.id jabarkan tentang jenis bahan kulit sapi tersebut diatas, anda dapat menentukan dari bahan kulit sapi jenis apa untuk tas kulit, dompet kulit, atau sandal kulit anda. Tentunya dapat menyesuaikan dengan budget anda untuk membeli atau memulai usaha produk kerajinan tas kulit, dompet kulit, atau sandal kulit tersebut. Informasi ini akan sangat berguna terutama jika anda berniat membuat sendiri/ custom made produk kerajinan kulit made to order yang eksklusif.



sumber http://www.kerajinan.id/1418/jenis-bahan-kulit-sapi-yang-biasa-digunakan-untuk-kerajinan-kulit.html

Usaha Boneka Wisuda Dari Gypsum Yang Menjanjikan

Usaha boneka wisuda berbahan gypsum menjanjikan
 
PALEMBANG. Usaha boneka wisuda unik berbahan gypsum cukup menjanjikan, karena sekarang ini semakin banyak peminatnya dengan memanfaatkan momentum acara wisuda di sejumlah universitas ataupun perguruan tinggi di Kota Palembang.

Selama ini Gypsum hanya digunakan untuk bahan membuat plafon rumah. Tetapi, oleh salah seorang pengrajin disulap menjadi souvenir seperti boneka wisuda yang unik. 
"Ternyata sangat laku dan diminati para wisudawan/wisudawati, kata Hendri, pengrajin tinggal di Puncak Sekuning Palembang, Rabu (1/6).

Menurut dia, usaha boneka wisuda yang unik ini memiliki nilai jual tinggi bisa beromzet puluhan juta rupiah setiap bulannya.

Ia mengatakan, berbekal keahliannya sebagai pembuat langit-langit rumah atau plafon melakukan inovasi di tengah sepinya pesanan dari konsumen yang datang dengan beralih membuat kerajinan berbahan baku gypsum dan limbah karet, menciptakan souvenir seperti boneka wisuda sangat menarik dan unik memiliki nilai jual tinggi.

Menurut dia, untuk proses pembuatannya tidak terlalu rumit, bahan gypsum dicampur dengan casting plaster atau semen putih yang diaduk rata bersama air.

Selanjutnya, bahan tersebut dimasukan ke dalam cetakan khusus terbuat dari limbah karet, dimana proses ini diperlukan kesabaran karena harus melapisinya dan dijemur di bawah terik matahari selama tiga hari agar hasilnya sempurna.

Setelah kering, kata dia, barulah cetakan tersebut dibuka untuk dilakukan pengecatan, kemudian melapisi boneka ini menggunakan cat khusus mobil dicampur dengan tinner sehingga hasilnya maksimal, katanya.

Menurut Hendri, tahap awal kendalanya cukup banyak dalam melakukan usaha ini, terutama bahan baku cetakan dimana disini menggunakan bahan baku limbah karet mentah guna memperkecil biaya produksi.

Sementara, Mariama, penjual boneka gypsum mengatakan, ia datang ke sini ingin memberitahu kalau akan memesan sekitar 200 unit boneka untuk dijual ke acara wisuda minggu depan dengan harga jual antara Rp 50.000 hingga Rp 100.000 per unit boneka.

Lebih lanjut Hendri menambahkan bahwa ia dibantu istri mampu memproduksi 150 hingga 200 unit boneka gypsum per hari.

Boneka-boneka hasil karyanya itu dipasarkan oleh mitranya di tempat-tempat universitas yang sedang melakukan acara wisuda, sehingga tak heran jika omzetnya bisa mencapai puluhan juta rupiah per bulan.

Usaha tersebut, mampu menopang perekonomian keluarga di tengah sepinya pasaran pembuatan plafon rumah.




sumber http://peluangusaha.kontan.co.id/news/usaha-boneka-wisuda-berbahan-gypsum-menjanjika

Usaha Seni Fiber Glass

MEMBUAT BARANG DARI FIBERGLASS

Bahan Pembuat Fiberglass

Bahan pembuat fiberglass pada umumnya terdiri dari 11 macambahan, 6 macam sebagai bahan utama dan 5 macam sebagai bahan finishing, diantaranya : erosil, pigmen, resin, katalis, talk, mat, aseton,PVA, mirror,cobalt, dan dempul.

a. Erosil

berglass Bahan ini berbentuk bubuk sangat halus seperti bedak bayiberwarna putih. Berfungsi sebagai perekat mat agar fiberglass menjadikuat dan tidak mudah patah/pecah.

b. Resin

Bahan ini berujud cairan kental seperti lem, berkelir hitam atau bening.Berfungsi untuk mengencerkan semua bahan yang akan dicampur. Resin mempunyai beberapa tipe dari yang keruh, berwarna hingga yang bening dengan berbagai kelebihannya seperti kekerasan, lentur, kekuatan dan lain-lain. Selain itu harganya-pun bervariasi.

c.Katalis

Katalis berbentuk cairan jernih dengan bau menyengat. Fungsinya sebagai katalisator agar resin lebih cepat mengeras. Penambahan katalis ini cukup sedikit saja tergantung pada jenis resin yang digunakan. Selain itu umur resin juga mempengaruhi jumlah katalis yang digunakan. Artinya resin yang sudah lama dan mengental akan membutuhkan katalis lebih sedikit bila dibandingkan dengan resin baru yang masih encer. Zat kimia ini biasanya dijual bersamaan dengan resin. Perbandingannya adalah resin 1 liter dan katalisnya 1/40 liter.

d. Pigment

Pigment adalah zat pewarna saat bahan fiberglass dicampur. Pemilihan warna disesuaikan dengan selera pembuatnya. Pada umumnya pemilihan warna untuk mempermudah proses akhir saat pengecatan.

e. Mat

Bahan ini berupa anyaman mirip kain dan terdiri dari beberapa model, dari model anyaman halus sampai dengan anyaman yang kasar atau besar dan jarang-jarang. Berfungsi sebagai pelapis campuran/adonan dasar fiberglass, sehingga sewaktu unsur kimia tersebut bersenyawa dan mengeras, mat berfungsi sebagai pengikatnya. Akibatnya fiberglass menjadi kuat dan tidak getas.

f. Talk

Sesuai dengan namanya, bahan ini berupa bubuk berwarna putih seperti sagu. Berfungsi sebagai campuran adonan fiberglass agar keras dan agak lentur.

g. Aseton

Pada umumnya cairan ini berwarna bening, fungsinya yaitu untuk mencairkan resin. Zat ini digunakan apabila resin terlalu kental yang akan mengakibatkan pembentukan fiberglass menjadi sulit dan lama keringnya.

h. Cobalt
Cairan kimia ini berwarna kebiru-biruan berfungsi sebagai bahan aktif pencampur katalis agar cepat kering, terutama apabila kualitas katalisnya kurang baik dan terlalu encer. Bahan ini dikategorikan sebagai penyempurna, sebab tidak semua bengkel menggunakannya. Hal ini tergantung pada kebutuhan pembuat dan kualitas resin yang digunakannya. Perbandingannya adalah 1 tetes cobalt dicampur dengan 3 liter katalis. Apabila perbandingan cobalt terlalu banyak, dapat menimbulkan api.

i. PVA

Bahan ini berupa cairan kimia berkelir biru menyerupai spiritus. Berfungsi untuk melapis antara master mal/cetakan dengan bahan fibreglass. Tujuannya adalah agar kedua bahan tersebut tidak saling menempel, sehingga fiberglass hasil cetakan dapat dilepas dengan mudah dari master mal atau cetakannya.

j. Mirror

Sesuai namanya, manfaatnya hampir sama dengan PVA, yaitu menimbulkan efek licin. Bahan ini berwujud pasta dan mempunyai warna bermacam-macam. Apabila PVA dan mirror tidak tersedia, perajin/pembuat fiberglass dapat memanfaatkan cairan pembersih lantai yang dijual bebas di mall/ toserba.

k. Dempul

Setelah hasil cetakan terbentuk dan dilakukan pengamplasan, permukaan yang tidak rata dan berpori-pori perlu dilakukan pendempulan.Tujuannya agar permukaan fiberglass hasil cetakan menjadi lebih halus dan rata sehingga siap dilakukan pengecatan.

Peralatan Fiberglass
Di samping bahan-bahan yang disebutkan di atas, dalam pembuatan fiberglass diperlukan peralatan antara lain :
a.Wadah, untuk tempat mencampur resin dan mencuci alat.
b.Pengaduk untuk resin dan pengambil pigment.
c.Kuas, untuk meratakan resin pada permukaan yang dilapisi fiberglass.
d.Masker, untuk menghindari masuknya zat kimia berbahaya, bau menyengat, serbuk/serat halus
   dan   lain-lain.
e.Kain lap, untuk membersihkan kotoran/ceceran resin.
f.Alat tambahan lain seperti gergaji, gunting, gerinda dan lain-lain mungkin dibutuhkan dalam
   beberapa jenis pekerjaan.

  • Pembuatan Fiberglass
Proses pembuatan fiberglass dapat diklasifikasikan menjadi 3 tahapan, yaitu : (a) membuat master cetakan; (b) membuat fiberglass hasil; dan (c) finishing atau penyempurnaan. Sebagai gambaran misalnya akan dibuat sebuah tutup bumper belakang mobil.

a. Pembuatan master cetakan

Membuat master cetakan merupakan langkah awal dari pembuatan fiberglass. Ada dua pilihan bahan yang akan digunakan untuk membuat master cetakan, yakni bahan dari gips dan bahan dari fiberglass. Masing- masing bahan master cetakan tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan. Pembuatan master cetakan dari bahan gips akan lebih mudah dikerjakan, dan saat pelepasan fiberglass hasil dari master cetakannya mudah dilakukan, bahkan dapat dilakukan dengan merusak master cetakannya. Di samping itu harganyapun relatif lebih murah. Kekurangannya adalah konstruksinya rapuh dan hanya dapat dipakai sekali saja. Untuk bahan master cetakan dari fiberglass memang harganya lebih mahal. Di samping itu proses pembuatan master cetakan dan proses pelepasan fiberglass hasil dari master cetakan lebih sulit dikerjakan.Kelebihannya adalah konstruksinya lebih kuat/tidak mudah patah dan master cetakannya dapat dipergunakan beberapa kali. Oleh karena itu, dalam membuat master cetakan pembuat fiberglass lebih senang menggunakan bahan dari fiberglass juga. Dengan demikian yang akan dibahas di sini adalah membuat master cetakan dari bahan fiberglass. Proses pembuatannya sebagai berikut :

1) Membuat mal cetakan Membuat mal cetakan dapat dilakukan dengan cara membuat tutup bumper
    dengan kertas karton yang ukuran dan bentuknya sama persis dengan ukuran dan bentuk aslinya.
    Apabila tersedia bentuk asli tutup bumper (tentunya yang sudah tidak terpakai), maka bentuk asli
    tutup bumper ini dapat dimanfaatkan sebagai mal.

2) Melapisi mal tersebut dengan PVA atau mirror.Apabila bahan ini tidak tersedia maka dapat
    menggunakan cairan pembersih lantai.

3) Menyiapkan wadah sebagai tempat adonan fiberglass berupa kaleng bekas oli atau kaleng bekas
    cat, yang penting keadaannya bersih.

4) Membuat adonan fiberglass dengan cara mencampur jadi satu talk, resin, dan katalis. Aduk dengan
     cepat bahan-bahan ini hingga merata, kalau kelamaan dapat mengeras duluan.

5) Selanjutnya adonan fiberglass diulaskan dengan cepat pada mal sebelah luar dan ditunggu sampai
     kering. Agar cepat kering dapat dijemur di terik matahari.

6) Memasang/menempatkan mat pada permukaan lapisan adonan fiberglass. Ukuran mat
     menyesuaikan bentuk mal.

7) Menyiapkan adonan fiberglass lagi, dan diulaskan kembali di atas lapisan mat dengan cepat serta
     ditunggu sampai kering.

8) Apabila lapisan fiberglass sudah kering, master cetakan dapat dilepas dari mal-nya dan siap
   digunakan sebagai cetakan fiberglass.Agar dapat dihasilkan kualitas fiberglass yang kuat, campuran
   bahan untuk master cetakan harus lebih tebal daripada fiberglass hasil, yaitu sekitar 2 - 3 mm atau
   dilakukan 3 - 4 kali pelapisan.

  • Pembuatan fiberglass hasil
Apabila master cetakan sudah dibuat, maka proses pembuatan fiberglass hasil dapat dimulai dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1) Menyiapkan master cetakan.

2) Menyiapkan wadah sebagai tempat adonan fiberglass berupa kaleng bekas oli/ kaleng bekas
     cat/mangkuk, yang penting keadaannya bersih.

3) Resin sejumlah 1,5 - 2 liter dicampur dengan talk dan diaduk rata.

4) Apabila campuran yang terjadi terlalu kental maka perlu ditambahkan katalis. Penggunaan katalis
    harus sesuai dengan perbandingan 1 : 1/40. Oleh karena itu apabila resinnya 2 liter, maka
    katalis-nya 50 cc.

5) Selanjutnya ditambahkan erosil antara 400 - 500 gram pada campuran tersebut dan pigmen atau
    zat pewarna.

6) Apabila semua campuran ter-sebut diaduk masih terlalu kental, maka perlu ditambah-kan katalis
    dan apabila campurannya terlalu encer dapat ditambahkan aseton. Pemberian banyak sedikitnya
    katalis akan mempengaruhi cepat atau lambatnya proses pengeringan. Pada cuaca yang dingin akan
    dibutuhkan katalis yang lebih banyak.

7) Setelah campuran bahan dasar dibuat, langkah berikutnya yaitu memoles permukaan master
    cetakan pada bagian dalam dengan mirror (sebagai pelicin dan pengkilap) dan dilakukan memutar
    sampai lapisannya benar-benar merata.

8) Agar didapatkan hasil yang lebih baik, perlu ditunggu beberapa menit sampai pelicin tersebut
     menjadi kering. Untuk mempercepat proses pengeringan, dapat dijemur di terik matahari.

9) Apabila mirror sudah terserap, permukaan cetakan dapat dilap dengan menggunakan kain bersih
     hingga mengkilap.

10) Permukaan cetakan diolesi PVA untuk menjaga agar permukaan cetakan tidak lengket dengan
      fiberglass hasil. Apabila mirror dan PVA tidak tersedia, dapat digunakan cairan pembersih lantai
      sebagai gantinya.

11) Mengoleskan permukaan cetakan dengan adonan/ campuran dasar sampai merata, dan ditunggu
      sampai setengah kering. Seperti langkah sebelumnya, yakni untuk mempercepat proses
      pengeringan, dapat dijemur di terik matahari.

12) Selanjutnya di atas campuran yang telah dioleskan dapat diberi selembar mat sesuai dengan
       kebutuhan. Tentu saja ukuran mat harus menyesuaikan dengan ukuran dan bentuk cetakan.

13) Selanjutnya di atas mat tersebut dilapisi lagi dengan adonan dasar. Untuk menghindari adanya
      gelembung, pengolesan adonan dasar dilakukan sambil ditekan, sebab gelembung akan
      mengakibatkan fiberglass mudah keropos. Jumlah pelapisan adonan dasar disesuaikan dengan
      keperluan, makin tebal lapisan maka akan makin kuat daya tahannya.

14) Selain itu sebagai penguat dapat ditambahkan tulangan besi atau tripleks, terutama untuk bagian
      yang lebar. Tujuannya adalah agar hasilnya tidak mengalami kebengkokan.

15) Pelepasan fiberglass hasil dilakukan apabila lapisan adonan tersebut sudah kering dan mengeras,
       sebab apabila dilepas sebelum kering dapat terjadi penyusutan.

c. Langkah finishing

   Pada langkah finishing, langkah pertama yang dilakukan yaitumerapikan fiberglass setelah  dilepaskan dari master cetakannya denganmenggunakan gergaji, gunting, atau gerinda. Apabila fiberglass hasil telah rapi dapat dilakukan proses pengamplasan permukaan, pendempulan,dan pengecatan fiberglass, sesuai dengan warna yang diinginkan

Bahan Fiberglass

Istilah fiberglass umumnya digunakan untuk suatu produk baik lembaran maupun masif berserat menggunakan bahan dasar resin. Proses pembuatan fiberglass itu sendiri melalui beberapa proses dan membutuhkan bahan baku antara lain resin, katalis, talc, wax, pigmen (pewarna). Sedangkan proses pembuatannya yaitu (i) pengadaan bahan-bahan Fiberglass, (ii) proses pembuatan desain, (iii) proses pencetakan. 1. Bahan-bahan Fiberglass Untuk mebuat fiberglass dibutuhkan beberapa bahan baku antara lain:

* Resin

Resin adalah bahan kimia yang berbentuk cair, menyerupai minyak goreng, tetapi agak kental. Jenis resin bermacam-macam. Untuk bahan aksesoris fiberglass, umumnya menggunakan resin bening atau resin butek. Resin bening, biasanya digunakan untuk bentuk yang menonjolkan kebeningannya. Sedangkan resin jenis butek lebih banyak digunakan untuk pembuatan aksesoris, disamping harganya murah, resin ini dapat dengan mudah dibeli di toko-toko kimia.

* Katalis

Cairan ini bisa dibilang pendamping setia resin, cairan ini biasanya berwarna bening dan berbau agak sengak. Cairan ini berfungsi untuk mempercepat proses pengerasan adonan fiber, semakin banyak katalis maka akan semakin cepat adonan mengeras akan tetapi hasilnya kurang bagus. Cairan ini jika mengenai kulit akan terasa panas, seperti cairan air zuur.

* Talc

Bahan berbentuk bubuk putih yang menyerupai terigu ini berfungsi sebagai pengental adonan fiberglass utama (resin, katalis dll) sehingga sepeti plastik. Semakin banyak campuran Talc pada adonan, maka hasil fiberglass akan menjadi lebih tebal dan berat.

* Wax (Mold Release)

Bahan ini sepintas mirip mentega/keju ketika masih di dalam wadahnya. Berfungsi sebagai pelicin pada tahap pencetakan dan agar resin tidak menempel pada cetakan. 2. Pembuatan desain Langkah-langkah dalam membuat desain antara lain dengan:

1. Membuat visualisasi produk dengan gambar melalui komputer. Melakukan pembuatan pola melalui komputer yang kemudian dituangkan dalam gambar desain. Hal ini bertujuan memvisualisasikan desain prosuk yang akan dibuat dan mempermudah dalam pencetakan.

2. Membuat cetakan fiberglass sesuai ukuran gambar Gambar produk yang telah dibuat kemudian digunakan untuk menciptakan cetakan fiberglass dengan ukuran tertentu. Cetakan ini dibuat dari bahan fiberglass untuk mempermudah pembentukan.

3. Finising desain cetakan fiberglass. Finising dilakukan untuk melihat keakuratan ukuran dan kesesuaian bentuk cetakan dengan model gambar.

3. Proses pencetakan
Terdapat beberapa cara dalam pembuatan fiberglass antara lain:
* Resin + Katalis = mudah pecah
* Fiberglass Cloth + Resin + Katalis
* Resin + talk + Katalis = Kuat

Didalam pembuatan fiberglass mengunakan cara yang kedua yaitu Resin + talk + Katalis. Proses pencetakan dilakukan dengan beberapa tahapan, yaitu:

1. Siapkan alat-alat berupa gelas air mineral, pengaduk, dan sarung tangan.

2. Tuangkan resin, katalis dan talc kedalam gelas air mineral dengan perbandingan campuran Resin : Katalis = 1 liter : 10cc (0,01 L), sedangkan resin ditambah talk kira-kira perbandingan 1:1 3. Tambahkan air secukupnya untuk menjaga agar bahan baku tidak mudah mengeras

4. Tambahkan pigmen sesuai warna yang dikehendaki dan aduk-aduk sampai merata

5. Tuangkan bahan baku kedalam cetakan dan tunggu hingga mengering dan keras

6. Keluarkan fiberglass dari cetakan

BAHAN PEMBUAT FIBERGLASS



Resin
Resin adalah bahan kimia yang berbentuk cair, menyerupai minyak goreng, tetapi agak kental. Jenis resin bermacam-macam. Untuk bahan aksesoris fiberglass, umumnya menggunakan resin bening atau resin butek. Resin bening, biasanya digunakan untuk bentuk yang menonjolkan kebeningannya, seperti untuk aksesoris visor, kap lampu dll sebagai pengganti mika, namun penggunaan resin bening yang ada dipasaran untuk pengganti mika, masih belum menghasilkan kualitas yang memuaskan. Sedangkan resin jenis butek lebih banyak digunakan untuk pembuatan aksesoris, disamping harganya murah, resin ini dapat dengan mudah dibeli di toko-toko kimia.

Katalis
Cairan ini bisa dibilang pendamping setia resin, cairan ini biasanya berwarna bening dan berbau agak sengak. Cairan ini berfungsi untuk mempercepat proses pengerasan adonan fiber, semakin banyak katalis maka akan semakin cepat adonan mengeras tetapi hasilnya kurang bagus. Cairan ini jika mengenai kulit akan terasa panas, seperti cairan air zuur.

Kalsium Karbonat
Bahan berbentuk bubuk putih yang menyerupai terigu ini berfungsi sebagai pengental adonan fiberglass utama (resin, katalis dll). Semakin banyak campuran Kalsium Karbonat pada adonan, maka hasil fiberglass akan menjadi lebih tebal dan berat. Bahan ini dapat diganti dengan Talc, tetapi warna Talc agak lebih gelap. Tetapi saya belum menemukan perbedaan yang signifikan penggunaan Talc & Kalsium Karbonat.

Met/Matt
Met merupakan bahan serat kaca. Bahan ini berfungsi sebagai serat penguat dari adonan fiberglass ketika akan dicetak, agar hasilnya menjadi lebih kuat dan tidak mudah pecah. Bentuk met bermacam-macam, ada yang mirip bihun, kain, karung dan sarang lebah. Tetapi yang banyak dijumpai dipasaran adalah yang berbentuk seperti bihun.

Kobalt (Cobalt Blue)
Kobalt adalah bahan kimia yang berbentuk cair, berwarna biru mirip tinta dan mempunyai aroma tidak sedap. Cairan ini digunakan untuk tambahan campuran adonan resin & katalis, agar adonan lebih merekat pada met dan mempercepat pengerasan adonan fiber. Terlalu banyak menambahkan Kobalt dapat mengakibatkan hasil fiber yang getas (rapuh).

Wax (Mold Release)
Bahan ini sepintas mirip mentega/keju ketika masih di dalam wadahnya. Berfungsi sebagai pelicin pada tahap pencetakan yang menggunakan mal/molding, agar antara molding dengan hasil cetakan tidak saling merekat, sehingga dengan mudah dapat dilepaskan.
sumber: wirausahamodalkecilkita.blogspot.co.id/2013/02/usaha-seni-fiber-glass.html 

Kerajinan Gypsum

kerajinan gypsum

Kerajinan gypsum mulai banyak diminati masyarakat. Pembuatannya terbilang lebih mudah, jika dibandingkan dengan fiberglass. Gypsum merupakan bahan mineral yang tidak larut dengan air dalam waktu yang lama jika sudah menjadi padat. Kandungan gips terdiri atas jenis zat hidrat kalsium sulfat yang dapat terlepas sehingga gips dalam proses pengerasan akan terasa panas. Prosesnya harus dicairkan dahulu jika ingin bentuk seperti yang di inginkan, harus dibuat cetakan. Jika akan diproduksi dalam jumlah banyak, harus di buat model terlebih dahulu.
Secara umum, untuk semua produk Kerajinan Gypsum diperlukan cetakan. Bahan utama pembuatan cetakan adalah silicone rubber, tetapi yang paling gampang dan mudah dicari adalah plastisin atau tanah liat. Fungsi Kerajinan Gypsum biasanya dapat berupa hiasan dinding, mainan, dan sebagainya.
Gypsum merupakan salah satu bahan untuk membuat kerajinan berbahan lunak. Walaupun sebetulnya semen putih, gypsum tidak hanya digunakan untuk campuran bahan bangunan. Siapa sangka, gypsum bisa dibuat menjadi kerajinan tangan sehingga memiliki nilai tambah tersendiri.
sehingga banyak orang yang tertarik dengan usaha kerajinan gypsum ini.
 
Setelah diolah, gypsum dapat dijual dengan harga terjangkau sehingga peminatnya banyak. selain itu harga bahan baku nya juga sangat terjangkau, Gypsum dapat kita jumpai di pasar-pasar. Cat dan air serta alat lainnya juga sangat mudah didapatkan.
Selain itu cara membuat kerajinan dari bahan lunak berupa gypsum sangat mudah dilakukan. Waktu yang dibutuhkan untuk membuatnyapun tidak terlalu lama.
cara membuat kerajinan dari gypsum:
1) Siapkan alat dan bahan, antara lain: gypsum, air, cat, wadah, cetakan, kuas, gantungan (bila diinginkan), dan minyak.
2) Oleskanminyak pada cetakan agar gypsum mudah dilepas.
3) Campurkan gypsum debgan air dalam wadah. Pastikan gypsum dan air tercampur secara merata dan tidak terlalu kental.
4) Tuangkan campuran gypsum dan airkedalam cetakan. Pastikan segera menuang, karena gypsum mudah mongering.
5) Setelah cetaka terisi setengah, masukkan gantungan pada ujung cetakan. Kemudian, tuangkan campuran gypsum dan air lagi sampai penuh.
6) Keringkan gypsum tersebut.
7) Jika sudah keras ambil gypsum dari dalam cetakan. Mengambilnya hati-hati agar gypsum yang telah dicetak tidak rusak.
8) Warnai gypsum dengan earna yang kalian suka.
9) Keringkan sebentar dan jadilah kerajinan dari gypsum.
Karena menggunakan cetakan, maka bentuk kerajinan ini dapat disesuaikan dengan cetakan. Selain itu, kita memiliki banyak warna cat untuk menhiasnya. Bentuk dan warna yang beragam ini dapat menambah daya tarik pembeli.
Saluran pengembangan kreativitas
Kita bebas memberi warna pada gypsum yang telah dicetak. Dengan demikian, warna yang kita berikan harus sekreatif mungkin agar menjadi lebih menarik.



sumber  http://www.kerajinan.id/1989/kerajinan-gypsum.html

Sentra Kerajinan Serat Alam Kulon Progo

Sentra Kerajinan Serat AlamAnda penyuka product kerajinan serat alam, serta tengah bertandang ke Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta? Luangkan singgah ke Desa Salamrejo di Kecamatan Sentolo. Disana ada beberapa ratus warga sebagai perajin serat alam. Dari tangan mereka lahir bermacam kerajinan cantik, seperti dompet, tas, topi, sampai furnitur.

Hasil kerajinan warga itu dipajang di beberapa puluh kios yang berjejer di selama jalan desa itu.
Walau cukup jauh dari pusat kota Yogyakarta, namun lokasi sentra cukup gampang didapati. Dari pusat kota di Wates, Anda cuma butuh menyusuri Jalan Wates menuju arah Kabupaten Kulon Progo. Lalu, seputar tiga km dari perbatasan Yogyakarta serta Kulon Progo, Anda bakal disambut suatu plang bertuliskan : Sentra Produksi Kerajinan Serat Kulon Progo. Inilah lokasi beberapa perajin bermukim, lakukan aktivitas produksi, sekalian jual hasil karya mereka.
Kesibukan di sebagian kios memang sering tampak sepi. Salah seseorang perajin, Joko Santoso (45) menjelaskan, memanglah tidak sering tamu yang segera beli kerajinan di kios. ” Rata-rata konsumen telah order lewat telephone atau surat elektronik, ” katanya.

Berbarengan istrinya, Joko mulai melakukan bisnis kerajinan serat alam dari 1990-an. Lalu, untuk menarik semakin banyak konsumen, ia membangun kios yang memajang bermacam kerajinan itu pada 2010. “Sebenarnya, dari th 1970-an, Sentolo telah populer untuk sentra kerajinan serat alam, ” klaim Joko.

Adapun, bermacam serat yang digunakan untuk bahan baku kerajinan yaitu serat eceng gondok, agel (pohon gebang), rotan, daun pandan, sampai pelepah pisang.
Joko jual product kerajinan berbentuk tas, topi, sarung bantal, dompet, kursi, juga kalung dari serat agel. Ia membanderol harga Rp 10. 000 – Rp 750. 000 per item product. Dari usaha ini, Joko dapat memperoleh omzet Rp 25 juta – Rp 30 juta per bln.
Perajin serat alam yang lain, Dian Ayu (39) menyebutkan, ketrampilan menghasilkan kerajinan serat alam di Sentolo telah berjalan turun temurun. Ia mengakui, telah mahir bikin kerajinan memiliki bahan serat alam dari SMP. Lalu, sesudah lulus SMA, ia mengambil keputusan melakukan bisnis kerajinan serat, lantaran potensinya cukup tinggi.

Tidak jauh lain dengan perajin serat alam yang lain, Dian jual product kerajinan dari beragam tipe 
serat, seperti agel, eceng gondok, mendong, serta daun pandan. Produknya bermacam, dimulai dari tas, dompet, sarung bantal, kursi, tikar, keset, serta topi.

Beragam product itu di bandrol harga mulai Rp 15. 000 sampai Rp 1 juta per item. Ibu dari dua orang anak ini katakan, bila tengah banyak order, ia sempat memperoleh omzet sampai Rp 50 juta satu bulan. ” Namun, bila dirata-ratakan, omzet saya seputar Rp 20 juta per bln., ” katanya.
Ia mengakui, dapat mengantongi keuntungan bersih seputar 20% – 30%.

sumber https://umkmjogja.com/sentra-kerajinan-serat-alam-kulon-progo.html

Peluang Bisnis Keramik Tanah Liat


Keramik tanah liat tidak ada matinya. Produk kerajinan ini masih menjadi pilihan pelengkap perangkat hiasan interior dan eksterior ruangan. Pasarnya cukup luas hingga ke mancanegara. Asal ada inovasi produk, pasti pesanan akan terus mengalir bersamaan dengan laba yang menjanjikan.
Meski usianya baru lima tahun, Langkat Keramik, pengrajin keramik berbahan baku tanah liat berbasis di Medan, Sumatera Utara, terbilang sukses. Produk-produknya sudah melanglang buana ke berbagai negara, seperti Malaysia, Singapura, Swedia, Spanyol, dan Timur Tengah.
Kusna Hendrika dari Divisi Pemasaran Langkat Keramik bercerita, ilmu membuat bermacam-macam jenis keramik didapat dari berguru ke sejumlah sentra industri keramik di Tanah Air termasuk Plered, Purwakarta, yang namanya sudah kesohor ke mana-mana. “Walaupun berdiri pada 2005 lalu, kami baru memulai produksi di 2008,” ungkap Kusna.
Saat ini, Langkat Keramik memiliki 17 perajin dan tujuh staf kantor. Produk keramik buatan mereka, antara lain tembikar, vas, serta pot bunga berukuran besar beraksen dan berornamen.
Produksi keramik tanah liat Langkat Keramik 100% murni buatan tangan. Ya, kalaupun ada bantuan mesin, perannya tidak banyak-banyak amat. “Kapasitas produksi kami mencapai satu kontainer atau 2.000 unit per bulan,” tutur Kusna.
Kelebihan keramik made in Langkat Keramik ini terletak pada tanah liatnya yang hanya dengan sedikit campuran. Sumber bahan baku mereka berasal dari Sumatera Utara.
Harga jual produk Langkat Keramik bervariasi, mulai dari Rp 15.000 hingga Rp 10 juta per buah. “Secara total omzet kami per bulannya antara Rp 50 juta hingga Rp 60 juta untuk pasar lokal saja,” kata Kusna.
Tapi, pasar lokal Langkat Keramik masih sebatas menjangkau Pulau Sumatra doang. Tahun ini, mereka baru menjajal pasar di Jawa dengan mengikuti beberapa pameran. “Kami berniat membuka galeri di Jakarta,” ungkap Kusna.
Tentu saja, Langkat Keramik harus bersaing dengan industri keramik tanah liat di Jawa yang usianya sudah puluhan tahun, termasuk dengan guru merek, para perajin dari Plered. Eman Sulaeman, misalnya, perajin dari Plered yang berkibar melalui Wisman Wijaya Keramik.
Eman yang juga Ketua Kelompok Kerja Klaster Keramik Plered mengatakan, usaha kerajinan keramik di daerahnya sudah ada sejak zaman kakek buyutnya. Setelah berguru dari kakek dan ayahnya, ia akhirnya mendirikan usaha sendiri pada 1993 lalu. “Dulu sekitar 70% dari produksi untuk ekspor,” katanya.
Tapi, begitu krisis moneter melanda pada 1997-1998, pesanan ekspor menyusut. Eman pun sempat kelimpungan. Karena langganannya di pasar lokal sudah beralih ke perajin lain.
Kini, Eman mulai memperluas pasarnya kembali. Sekitar 60% produknya masuk ke pasar lokal, sisanya untuk ekspor. Omzet per bulan masih sebesar Rp 10 juta. “Asal ada inovasi produk, pasti ada aja order yang masuk,” katanya. (peluangusaha.kontan.co.id)






sumber https://joglohandycraft.wordpress.com/2011/01/06/peluang-bisnis-keramik-tanah-liat/

04/12/16


Mampukah Guru Prakarya dan Kewirausahaan Menjadi Teladan?

 


Sejak tahun pelajaran 2014/2015, semua sekolah di Indonesia sudah wajib menerapkan kurikulum 2013. meskipun akhirnya ada persyaratan khusus. Salah satu mata pelajaran wajib bagi siswa pada kurikulum 2013 adalah mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan, yang khusus dipersiapkan bagi siswa untuk berwirausaha dengan cara belajar menciptakan beberapa hasil karya yang bernilai jual secara ekonomi.


Meski penerapan kurikulum baru ini masih dianggap belum waktunya diterapkan di setiap sekolah oleh banyak kalangan akademisi, namun untuk mata pelajaran yang satu ini pantas diapresiasi mengingat sempitnya lowongan pekerjaan di masa depan. Pada awalnya, mata pelajaran Kewirausahaan hanya diperoleh para siswa yang belajar di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Kini mata pelajaran ini merambah ke semua Sekolah Menengah Atas (SMA) bahkan pada Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Dasar (SD) atau sederajad.


Prakarya dan kewirausahaan sebagai pengetahuan transcience-knowledge bertujuan mengembangkan pengetahuan dan melatih keterampilan kecakapan hidup berbasis seni, teknologi, dan ekonomi. Hal ini disajikan dalam bentuk berbagai keterampilan dari mulai keterampilan membuat produk kerajinan tekstil, produk kerajinan limbah tekstil, produk elektronik, budidaya tanaman hias, budidaya tanaman pangan, produk pembersih, produk boga, serta berbagai kerajinan sederhana yang lain.
Sejak dahulu sebelum kurikulum 2013 ini muncul, pelajaran semacam ini sebenarnya telah lama ada. Pada berbagai macam kurikulum yang diterapkan pada sistem pendidikan nasional, setiap siswa dan bahkan mahasiswa selalu dibekali ilmu tentang kewirausahaan. Yang berbeda mungkin hanya nama mata pelajaran serta kalimat-kalimat dalam silabusnya saja yang sedikit berbeda. Bila kembali ke masa lalu, seorang anak SD pada tahun 1980-an pun telah dibebani membuat kipas dari bambu, kerajinan dari tanah liat, serta berbagai kerajinan anyam-anyaman untuk memenuhi tugas mata pelajaran keterampilan.


Meski pembekalan kewirausahaan telah dilakukan sejak lama, namun hingga kini jiwa kewirausahaan bagi setiap siswa dan mahasiswa yang telah menyelesaikan masa studinya belum begitu terasa. Mental wirausaha juga masih sangat rendah, terbukti dari banyaknya para pencari pekerjaan di setiap lowongan yang ada, kecilnya jumlah wiraswasta di Indonesia, serta banyaknya jumlah pengangguran di negeri ini.
Seseorang yang telah memiliki kemampuan memadukan teori dan praktik untuk menghasilkan sesuatu berarti orang tersebut sudah dapat dikatakan mempunyai jiwa wirausaha. Hal itulah yang saat ini sedang diupayakan tertanam dalam diri siswa untuk dapat meraih kehidupan yang lebih baik di masa depan dengan keterampilan yang dimilikinya melalui mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan.


Permasalahannya, mampukah guru pengampu mata pelajaran ini menjadi contoh dan sauri tauladan bagi anak didiknya?


Di dalam kurikulum sekarang ini, bentuk pengajarannya berpola student-centered (terpusat pada siswa), berarti siswa ditekankan untuk aktif sedangkan guru berfungsi sebagai fasilitator dan motivator. Hal itu bertujuan agar potensi dalam diri siswa lebih tergali secara bebas dan mampu menghasilkan karya yang beragam dengan tetap menerapkan karakter positif dalam dirinya.
Ada sebuah pepatah yang mengatakan, “Satu teladan lebih baik dari pada seribu nasehat.” Dari pepatah itu telah jelas, contoh perbuatan dinilai lebih baik dan berpengaruh dibandingkan dengan nasehat semata. Artinya, tujuan dan manfaat dari mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan ini akan lebih menyasar ke alam pikiran dan jiwa anak-anak apabila sang guru mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan adalah seorang wiraswastawan juga.


Setumpuk ilmu pada pelajaran yang dijejalkan ke siswa kita rasa nggak akan cukup apabila guru hanya memberikan teori dan praktek di sekolah tanpa memberikan contoh tindakan wirausaha yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Bisa-bisa mata pelajaran ini cuma akan dianggap angin lalu oleh siswa karena sang pemberi teori tidak menjalankannya sendiri.


Belum lagi ditambah masalah tentang guru yang sama sekali tidak pernah mencoba berwiraswasta. Masalah guru penganut paham pekerjaan zona aman dan takut resiko berwirausaha, atau bahkan guru yang saat melamar pekerjaannya dulu menggunakan uang suap akan membuat tujuan mata pelajaran ini semakin sulit tercapai. Karena bagaimana pun juga ruh dan integritas seorang guru akan menjadi panutan bagi banyak siswa di berbagai segi kehidupan.


Akhirnya, apa pun dan bagaimana pun proses pendidikan yang dianggap baik sebenarnya membutuhkan keteladanan yang nyata. Seperti pada pelajaran Prakarya dan Kewiraisahaan ini, alangkah baiknya bila guru pengampu juga memberikan contoh dan tauladan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari dengan menciptakan usaha ekonomi.
Telah diketahui bersama, keberhasilan mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan sangat dinanti-nantikan bangsa ini mengingat jumlah wirausahawan di Indonesia yang masih sangat sedikit. Seperti dikutip dari liputan6.com yang diunggah pada Juni 2014, proporsi wiraswasta Indonesia baru sekitar 0,24% dari populasi penduduk atau hanya sekitar 500 ribuan.
Angka ini dinilai masih sangat kurang untuk mendukung akselerasi pembangunan ekonomi. Oleh karena itu, Indonesia membutuhkan wiraswasta sebesar 2% atau sekitar 4,8 juta wiraswasta dari total populasi penduduk Indonesia. Sebagai perbandingan, jumlah wiraswasta di Amerika Serikat sudah mencapai 12% dari total jumlah penduduknya, Singapura 7%, China dan Jepang 10%, India 7% dan Malaysia 3%.




Published

Minggu, 04 Desember . Pukul 18.25

http://disdik.kepriprov.go.id/index.php/94-makalah-artikel/175-mampukah-guru-prakarya-dan-kewirausahaan-menjadi-teladan

Biografi Sukanto Tanoto - Pengusaha Sukses Indonesia

 

 

Sukanto Tanoto yang terlahir dengan nama Tan Kang Hoo merupakan seorang pengusaha atau konglomerat sukses asal Indonesia yang pada tahun 2006 di tasbihkan oleh majalah Forbes sebagai orang terkaya di Indonesia, ia memimpin perusahaan yang bernama PT Raja Garuda Mas yang berbasis di Singapura yang usahanya di berbagai sektor terutama disektor kertas dan kelapa sawit sehingga Sukanto Tanoto dijuluki sebagai Si Raja Kertas dan Kelapa Sawit.


Ia merupakan salah satu pengusaha yang berhasil berinvestasi di lebih dari sepuluh negara di Dunia. Sukanto Tanoto dilahirkan di Belawan, Sumatera Utara, 25 Desember 1949. Ia mengenyam pendidikan SD di Belawan pada tahun 1960 dan kemudian Masuk SMP di medan pada tahun 1963. Pada usia 12 tahun Sukanto Tanoto sudah gemar membaca apa saja, termasuk buku tentang revolusi Amerika dan Perang Dunia

 

Sukanto Tanoto mengaku sosoknya mirip ibunya yaitu tegas dan keras. Pernah suatu ketika Sukanto kecil ngeluyur pergi ke tepi laut. Waktu pulang, ditanya oleh ibunya, jawabnya mengarang-ngarang, Sukanto kecil dipukuli pakai rotan. “Saya paling banyak makan rotan,” kenangnya tentang sosok sang ibu. Tapi, dengan sifat keras dan tegas, termasuk dalam hal berbisnis, ia bisa menjadi salah seorang pengusaha papan atas Indonesia, memimpin sejumlah perusahaan di bawah grup Raja Garuda Mas Internasional.

 

Sukanto Tanoto bercita-cita jadi dokter. “Kalau dulu saya meneruskan ke fakultas kedokteran, saya jadi dokter,” ujarnya. Karena obsesi itulah, sampai 1973-1974, ia masih senang pakai nama dokter Sukanto. Tapi, saat baru 18 tahun, ayahnya, Amin Tanoto, sakit stroke. Sulung dari tujuh bersaudara ini lalu mengambil alih tanggung jawab keluarga: meneruskan usaha orangtua berjualan minyak, bensin, dan peralatan mobil.

 

Pekerjaan yang tak asing baginya karena sepulang sekolah ia biasa membantu orangtuanya sambil membaca buku. Dan, dari situ Sukanto alias Tan Kang Hoo pertama kali belajar keterampilan bisnis, termasuk menerima kenyataan dan tidak menyerah dalam keadaan apa pun, serta mencari solusi.

 

Pindah dari kota kelahirannya, Belawan, Sumatra Utara, ke Medan, ia juga berdagang onderdil mobil, lalu mengubah usaha itu menjadi general contractor & supplier. Suatu ketika, datang Sjam, seorang pejabat Pertamina dari Aceh. “Waktu itu saya tidak tahu kalau dia pejabat,” kenang Sukanto. Ditawari kerja sama pekerjaan kontraktor, “Ya, mau-mau saja, wong saya masih muda,” ujarnya.

 

Tak disia-diakan kesempatan itu, di Pangkalan Brandan, Sumatra Utara, Sukanto membangun rumah, memasang AC, pipa, traktor, dan membuat lapangan golf di Prapat. “Itulah technical school saya,” katanya. Untuk mencari bahan bangunan, ia sampai pergi Sumbawa, Lampung, pada usia 20 tahun.

 

Pandai melihat peluang, waktu impor kayu lapis dari Singapura menghilang di pasaran, di Medan ia mendirikan perusahaan kayu, CV Karya Pelita, 1972. “Negara kita kaya kayu, mengapa kita mengimpor kayu lapis” ujarnya. “Saya itu pioner,” katanya. Di saat orang lain belum membuat kayu lapis, ia memproduksi kayu lapis dan mengubah nama perusahaannya menjadi PT Raja Garuda Mas (RGM), dengan ia sebagai direktur utama, 1973. Kayu lapis bermerek Polyplex itu diimpor ke berbagai negara Pasaran Bersama Eropa, Inggris, dan Timur Tengah.

 

“Strategy competition saya itu satu dua step sebelum orang mengerjakannya,” ungkapnya. Ketika belum ada orang membuka perkebunan swasta besar-besaran, walaupun waktu itu sudah ada perkebunan asing, di Sumatra, Sukanto membuka perkebunan kelapa sawit secara besar-besaran.

 

“Setelah itu baru kita bikin Indorayon,” tuturnya. PT Inti Indorayon Utama (IIU) yang bergerak di bidang reforestation menghasilkan pulp, kertas, dan rayon, serta mampu memasok bibit unggul pohon pembuat pulp di dalam negeri. Kehadiran IIU sempat ditentang masyarakat dan aktivis lingkungan hidup. Karena, ditengarai, Danau Toba tercemar berat oleh limbah pulp. Akibatnya, IIU sempat ditutup.

 

Tapi, Sukanto memetik hikmahnya: belajar dari kesalahan, agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. “Apa yang saya pelajari dari situ (Indorayon), lalu saya pakai di Riau,” ujarnya. Di Riau, ia membuka Hutan Tanaman Industri dan mendirikan pabrik pulp yang konon terbesar di dunia, PT Riau Pulp. Mulai berdiri 1995, karena krisis, baru jadi pada 2001.

 

Di sekitar pabriknya, bersama lembaga swadaya masyarakat, Sukanto membuat program community development untuk penduduk setempat.

...Saya tidak kasih ikan, tapi saya ajari mancing, itu yang kita kerjakan, - Sukanto Tanoto

Antara lain, program community development: penggemukan sapi, pembangunan jalan, dan pertanian. “Mimpi saya, kalau saya dapat seratus pengusaha Riau itu jadi miliader, saya senang,” katanya lagi.

 

Usaha Sukanto yang lain adalah bank. Ketika United City Bank mengalami kesulitan keuangan, pada 1986-1987, ia mengambil alih mayoritas sahamnya dan bangkit dengan nama baru: Unibank. Di Medan, ia pun merambah bidang properti, dengan membangun Uni Plaza, kemudian Thamrin Plaza. Tidak hanya dalam negeri, ia melebarkan sayap ke luar negeri, dengan ikut memiliki perkebunan kelapa sawit

 

 

Published

Minggu, 04 Desember 2016 . Pukul 18.01

 http://www.biografiku.com/2013/06/biografi-sukanto-tanoto-pengusaha.html